Wednesday, 26 December 2012

Dinamik 8 : Dreaming Into The 8th Sky

Dies Natalies Mahasiswa Ilmu Komputer 8 atau yang biasa disebut dengan Dinamik 8 merupakan  kegiatan yang diselenggarakan oleh salah satu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yaitu Keluarga Mahasiswa Ilmu Komputer atau Kemakom FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. Sesuai dengan namanya, acara ini diadakan untuk memperingati hari ulang tahun program studi ilmu komputer dan pendidikan ilmu komputer Universitas Pendidikan Indonesia. Hingga saat ini Dinamik telah dislenggarkana hingga 7 kali dan di tahun 2013 yang akan tiba beberapa hari lagi, Dinamik akan memasuki tahunnya yang ke 8.


Dari tahun ke tahun berbagai lomba dan ajang kreatifitas pelajar maupun mahasiswa dilombakan disini. Animo masyarakat pun semakin bertambah, terbukti dari frekuensi peserta yang tiap tahun bertambah seiring dengan lahirnya mutu dari acara tersebut. Meskipun umurnya baru seumur jagung atau baru sewindu, namun kualitas acara Dinamik patut diacungi jempol dan mampu untuk bersaing dengan acara perlombaan yang setaraf. Bahkan acara-acara yang jauh lebih senior memuji sepak terjang Dinamik yang mampu melahirkan peserta-peserta yang siap bersaing di bidang serupa. 

Tahun ini Dinamik 8 menggelar 10 macam kegiatan, 7 diantaranya bersifat perlombaan atau kompetisi, 3 sisanya bersifat kegiatan sosial. Adapun 7 kegiatan itu ialah sebagai berikut.

1. Computer Science Programming Contest
2. PC Assembling
3. Lomba Cipta Web
4. Lomba Desain Grafis
5. Lomba Animasi
6. Lomba Cepat Tepat
7. Dinamik Star


Dan 3 kegiatan yang bersifat sosial antara lain:


1. Bedah Buku dan Talk Show
2. Seminar Nasional Dinamik 8
3. Donor Darah Dinamik

Bagi kawan-kawan khususnya pelajar SMP/sederajat maupun SMA/sederajat yang memiliki minat di bidang teknologi & informasi maupun desain grafis, acara Dinamik sangat pas untuk mengukur sejauh mana kemampuan kawan-kawan. Kawan-kawan bisa melihat info lebih lengkapnya di http://dinamik8.kemakom.org.

 

Sunday, 30 September 2012

It's Your Time to Know Libre Office!





Libre Office merupakan salah satu software open source pengolah dokumen. Libre Office dapat berdiri di platform mana saja, baik itu Windows, Macintosh, maupun Linux. Software ini menyajikan 6 macam program pengolah dokumen, seperti text document, spreadsheet, database, presentation, drawing, & formula. Bila dilihat selintas Libre Office tidak jauh berbeda dengan Microsoft Office yang berdiri di platform Windows, namun ada beberapa kelebihan yang dimiliki oleh Libre Office ini. 

Pertama - It's free! Sama seperti software open source lainnya, kamu   dapat mengunduh Libre Office dengan bebas dan tidak dikenakan biaya.

Kedua - No Language Barriers. Ternyata eh ternyata salah satu permasalahan dalam software ialah faktor bahasa. Hal yang sangat sepele namun penting ini memegang peranan sebagai penghubung komunikasi antara user dan software. Beberapa software ternyata disajikan hanya menggunakan bahasa Inggris saja. Memang tidak salah, namun hal ini menjadi masalah terutama bagi para pengguna yang kurang fasih berbahasa Inggris. Untunglah, Libre Office tersaji dalam banyak bahasa.

Ketiga - LGPL Public License. Apa itu LGPL? Ok, yang saya pahami setelah membaca beberapa sumber terkait ialah sebuah lisensi free software yang diluncurkan oleh Free Software Foundation (FSF) yang dirancang sebagai bentuk kerjasama antara General Public License (GPL) dan sebuah lisensi permissive macam BSD License dan MIT License. 

Lalu?

Baiklah. Akan saya lanjutkan. Jadi LGPL dapat dihubungkan pada sebuah program yang tidak memiliki lisensi LGPL, biasanya terjadi pada free software. Bila syarat-syarat yang diizinkan untuk memodifikasi untuk kebutuhan pribadi terpenuhi, maka...

Intinya sih, lisensi LGPL dikenakan kepada software yang dapat dikonsumsi seperti biasa atau dapat dimodifikasi sekehendak user.

Keempat - Pengguna Libre Office itu banyak. Hampir seperti konsumen ikan asin, mereka tersebar di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Dan lagi, Libre Office telah melalui berbagai macam tes keamanan, sehingga membuat kita sebagai user merasa aman dan nyaman.

Kelima - Interface Libre Office itu mudah. Bila kita telah terbiasa menggunakan Microsoft Office, maka dalam Libre Office, user akan cepat beradaptasi karena tampilan-tampilannya tidak berbeda jauh dengan Microsoft Office.

Keenam : Libre Office memiliki format file yang sama dengan format dokumen lain pada umumnya, sehingga kita dapat meng-import file dari Office dan juga sebaliknya. 

Last but not Least: It's free! 

Note : Ada baiknya kamu mencari tahu segala hal tentang LGPL, karena apa yang saya rasakan saat ini adalah tulisan LGPL yang dikelilingi tanda tanya yang memenuhi ruang kepala saya. Satu lagi, saya tidak yakin ikan asin menjadi favorit di negara lain, jadi tidak usah dipikirkan.

Dikutip dari www.libreoffice.org   

Wednesday, 19 September 2012

Sang Pencerah: Mencerahkan yang Dicerahkan.


Hari itu hari Rabu. Saya terbaring di atas kasur di lantai 2 rumah saya, sedikit mengeluh dalam hati karena influenza menyerang hidung saya sehingga menyebabkan tissue di rumah saya mendadak habis. Tenggorokan terasa gatal, dan panas pun datang menyerang di pagi harinya, sehingga saya mengurungkan niat untuk pergi ke kempus dengan kondisi yang enggak banget untuk menuntut ilmu.


Di atas kasur saya hanya melamun, sembari mendengar Robert Plant menyanyikan The Rain Song yang terdengar dari speaker di bawah tempat tidur. Waktu menunjukan pukul 10.00 WIB dan saya masih dalam keadaan seperti ini, berusaha agar cairan dalam hidung saya tidak jatuh keluar dengan wujud yang menjijikan.

Kasur saya cukup sederhana. Sebenarnya saya tidur bukan di atas kasur secara langsung, melainkan di atas kursi yang dapat berubah fungsi menjadi kasur bila dibutuhkan. Namun di tangan saya, kursi tersebut berubah wujud menjadi kasur entah sampai kapan, dan saya gunakan untuk tidur. Lambat laun saya meninggalkan kamar saya yang terletak di lantai bawah dan sekarang kamar saya ditempati adik-adik saya untuk tidur. 

Saya lebih senang tidur di atas kursi. Entah mengapa. Dan hobi saya yang terbaru ialah tidur siang di atas lantai di kosan teman saya, dengan bantal di kepala dan pintu kosan yang terbuka lebar, membiarkan semilir angin masuk dan membelai kulit saya hingga terlelap. Mungkin hal itu juga yang membuat saya berpikir mungkin hobi terbaru saya itu merupakan salah satu faktor mengapa saya terbaring karena influenza ini.

Banyak buku bertebaran di sudut-sudut kasur saya, salah satunya ialah sebuah novel yang saya saya pinjam dari teman saya sekitar setahun yang lalu, tapi baru kali ini saya membacanya. Niat awal meminjam  buku itu ialah untuk mengisi waktu luang saat kuliah, namun hal yang terjadi malah sebaliknya dan buku yang saya pinjam pun terlupakan hingga hari dimana saya terbaring karena flu, buku itu tergeletak seolah-olah menunggu tangan saya menyambarnya.


Tanpa pikir panjang saya membaca buku itu. Sang Pencerah, karya Akmal Nasery Basral, yang menceritakan tentang perjalanan hidup salah seorang panutan saya : Kiai Haji Ahmad Dahlan. Kisah ini pernah difilmkan sebelumnya, dengan judul yang sama, disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Namun saya tidak sempat menonton filmnya dan lebih memilih untuk membaca bukunya.


Saya sudah tidak asing dengan sosok yang sering saya pandangi di kelas sekolah saya dahulu. Entah berapa kali saya memandangi foto beliau yang tergantung di setiap kelas. 6 tahun hidup di alam pesantren Muhammadiyah membuat saya sedikit demi sedikit mengenal tokoh yang menjadi pembaharu di jamannya. Walaupun hanya mengenal sosok beliau lewat berbagai buku sejarah, namun seakan-akan semangat saya tersulut oleh sepak terjang beliau dahulu.

3 jam kemudian saya terhanyut dalam buku tersebut. Tak peduli suhu di ruangan yang meningkat karena waktu menunjukan pukul 13.00. Tak peduli hening rumah saya yang sedang ditinggal oleh para penghuninya. Tak peduli cairan hidung saya yang menyumbat saluran pernafasan saya. Saya benar-benar terlarut oleh buku itu. 

K.H. Ahmad Dahlan, terlahir dengan nama Muhammad Darwis. Beliau menghabiskan masa kecilnya dengan belajar agam islam kepada ayahnya, Kiai Abu Bakar, yang juga merupakan khatib masjid Gedhe Kauman. Dan seperti anak kecil pada umumnya, beliau pun sering bermain gobak sodor maupun sepak bola bersama teman-temannya. Pemikiran kritis beliau pertama kali muncul ketika menghadiri acara yasinan wafatnya ayah sahabatnya. Beliau heran melihat ibu sahabatnya, yang berhutang untuk menyelenggarakan acara tersebut. Beliau berpikir, mengapa keluarga yang ditinggalkan harus menyelenggarakan acara yasinan dengan biaya yang terbilang mahal sampai harus berhutang besar? Apakah memang ada tuntunannya berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah? Kalaupun ada mengapa sampai memberatkan yang menanggungnya? Begitulah pertanyaan-pertanyaan Dahlan kecil yang berseliweran dalam benaknya. Hal itu pula yang membuatnya termotivasi untuk mendalami agama Islam secara lebih detil. 

Banyak hal dilakukan oleh beliau yang bertentangan dengan budaya dan tradisi masyarakat sekitar sehingga membuat orang-orang sekitar Kauman mencapnya sebagai orang sesat. Beliau mengubah arah kiblat masjid Gedhe Kauman, yang menurutnya kurang miring beberapa derajat. Beliau pula yang mengomentari adat-isitiadat yang bercampur dengan agama sehingga menghasilkan sesuatu yang berbau musyrik, seperti sesajen yang disediakan untuk meminta sesuatu kepada Allah melalui kuburan orang yang telah meninggal maupun tempat-tempat yang dianggap keramat.  Pemikirannya yang kritis membuat beliau dijauhi oleh para kiayi dan ulama-ulama di sekitarnya, namun berhasil membangkitkan minat dan semangat para kaum muda yang berpikir kritis dan menyukai caranya. 

Salah satu percakapan yang saya sukai ialah sebagai berikut.

'Dari ujung mataku, kulihat kebingungan di wajah para remaja itu.



"Kenapa main musik londo, Kiai?" tanya Jazuli.

"Memangnya kenapa?" Aku balik bertanya. Mereka tampak semakin bingung.

"Bukannya alat musik itu bikinan orang kafir?" sanggah Daniel.

"Orangnya yang kafir, alat musiknya tidak ada yang muslim atau yang kafir," jawabku sambil kembali menggesek biola perlahan-lahan.'

Terlihat jelas disini pemikiran beliau yang sangat kritis, dan tentunya mengundang kontroversi. Seringkali kita mencap sesuatu itu haram, terutama kepada benda-benda atau material yang memberi pengaruh dalam kehidupan sosial manusia, seperti halnya biola maupun alat-alat musik yang lain. Benda mati merupakan benda yang tak bernyawa dan tak berakal, lain halnya dengan manusia yang mempunyai akal. Maka seringkali kita sebagai manusia selalu menyalahkan hal-hal yang tidak seharusnya disalahkan, seperti kepada benda mati itu. Hal itu terjadi karena stigma negatif yang telah menodai sesuatu tersebut hingga akhirnya menjadi sesuatu yang tabu bahkan diharamkan, contohnya seperti musik. Banyak orang yang melarang untuk bermain musik, bahkan mengharamkan bermain musik. Lantas apakah selamanya musik akan menjadi haram? Tentu tidak. Stigma negatif yang melekat dalam musik, bahwa musik itu selalu dikaitkan denga Sex, drugs, dan Alcohol, membuat banyak orang berpikiran demikian dan mencap bahwa musik itu sesuatu yang membahayakan, bahkan mengharamkan hal tersebut.  

Kalau kata Doel Soembang, '...kalau bulan bisa ngomong...' saya sering berandai-andai hal seperti itu dapat terjadi. Mungkin musik yang disukai hampir oleh seluruh manusia yang berada di berbagai penjuru dunia akan menangis tersedu-sedu dan akan berteriak-teriak, mungkin gitar yang sering dimainkan oleh banyak orang akan mengutuki bahkan mungkin memburu siapa saja yang membuatnya menjadi terlihat negatif, sama seperti bila hal tersebut terjadi kepada manusia.

Maka, kita sebagai manusia haruslah dapat berpikir secara kritis, menimbang baik-buruknya suatu perkara, apakah melanggar kaidah-kadiah agama atau tidak, yang jelas segalanya kembali lagi kepada kita, apakah kita akan begini? Apakah kita akan begitu? K.H. Ahmad Dahlan memberi kita inspirasi dan motivasi untuk selalu berpikir kritis dan tidak keluar dari norma-norma dan syariat islam.



5 W + 1 H tentang Ubuntu



What?

Ubuntu merupakan salah satu operating sistem yang banyak digunakan orang di berbagai belahan dunia. Nama Ubuntu itu sendiri berasal dari Afrika yang berarti 'humanity to others' atau 'kemanusiaan untuk sesama'. Ubuntu juga mempunyai makna lain yaitu 'I am what I am because of who we all are'.
Tepat, saya agak sulit menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tapi bukan masalah, kita kembali lagi ke Ubuntu. 

Who?

Mark Shuttleworth merupakan orang yang paling berjasa dalam penciptaan Ubuntu ini. Beliau membuat dan mengumpulkan para developer dalam proyek softwarenya-Debian, yang selanjutnya melucurkan sistem operasi Ubuntu ini.


Why?

Mark Shuttleworth berpikir mengapa software tidak berbayar alias gratis belum mampu menyentuh dan menjadi bagian dari masyarakat. Untuk itulah Ubuntu diciptakan agar dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat dunia.

Banyak masyarakat di dunia yang sudah menggunakan Ubuntu. Hal ini terjadi karena mudahnya pengoperasian OS tersebut. Mungkin bagi sebagian orang yang terlanjur menggunakan OS seperti Windows, akan mengatakan lebih mudah mengoperasikan Windows daripada Ubuntu, padahal itu semua bergantung kepada budaya masing-masing. Namun yang pasti, bagi orang-orang yang senang mencari dan mencoba sesuatu yang baru, Ubuntu sudah menjadi barang wajib untuk dieksplorasi dan dikaji sedemikian rupa.

When?

Pertama kali diluncurkan pada bulan Oktober 2004 dengan nama 'Warthy Warthog' yang langsung menarik minat masyarakat di berbagai penjuru dunia, khususnya bagi para pengguna perangkat komputer. Di tahun yang sama pula muncul antusiasme dan simpatisan dalam komunitas pengguna Ubuntu yang meningkat secara pesat.



Where?

Kamu dapat mengunjungi websitenya di www.ubuntu.com dan mendapatkannya secara gratis. Baru - baru ini Ubuntu mengeluarkan versi 12.04 yang bersifat LTS (Long terms Support) selama 3 tahun untuk desktop dan 5 tahun untuk server.


How?

Mendapatkan OS Ubuntu sangatlah mudah. Kamu dapat mengunjungi situsnya di www.ubuntu.com dan mengunduhnya secara gratis! 

Ubuntu pun menawarkan berbagai fasilitas yang tidak kalah menarik dengan OS lainnya, sehingga mampu memanjakan para penggunanya. Dan sekali lagi, Ubuntu ini FREE!

Sumber :

Monday, 10 September 2012

Episode I : September 1st

Tulisan ini saya buat tepat di tanggal 1 September 2012. Walaupun sudah berlalu 9 hari, tapi sepertinya tidak akan masalah bila saya pajang disini.

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya baru dapat menulis sesuatu yang saya sukai.

Begitulah.

The pair of narrow eyes
Who would be blamed if its spiraling
Around my mind?

Haunt me when I'm sleep
Stalk me when I'm not look my back
Just my luck

Then I cross my hair well
Enjoyed all the time looking around my knees

Did I clean it well?

Haunt me when I'm sleep
Stalk me when I'm not look my back
Just my luck

And now 1st September
Oh well you know everything is not change
So did my heart that spoke clearly,
Pure as your narrow eyes



Enjoy!

Sunday, 9 September 2012

Headset Helm : Hiburan Bagi Para Pengendara Motor

Latar Belakang

Hal ini tercetus dalam benak saya ketika sedang mengendarai sepeda motor menuju kampus. Salah satu kebiasaan saya yang saya sukai ialah mendengarkan musik sembari menikmati jalanan antara rumah saya dan kampus. Namun semakin lama saya mulai merasa jengah ketika kabel headset yang tergantung di leher saya saling membelit dengan tali helm bahkan terjepit dengan clip helm. Terbayangkan oleh saya bila suatu saat saya dapat menciptakan helm yang didalamnya telah ditanam semacam speaker kecil yang dapat saya nikmati selagi berkendara.

Spesifikasi Alat

Hal pertama yang terlintas dalam benak saya ialah adanya sepasang speaker yang dipasang di kanan dan kiri sisi helm bagian dalam. Jack speaker dapat disambungkan ke perangkat yang dapat memutar lagu, seperti mp3 player atau handphone. Cukup sederhana, fleksibel, dan tidak rumit.

Setelah saya mencari kemiripan perangkat yang saya buat dengan orang lain, saya menemukan seseorang yang membuat perangkat yang mirip, walaupun masih terkesan agak kasar dalam segi penyajiannya. 

Kabar lain tersiar bahwa salah satu produsen helm di suatu negara akan membuat perangkat ini, tentunya dengan bentuk penyajian yang lebih praktis dan simpel.

Prolog


Entah apa yang akan saya tulis di sini, tapi satu hal yang pasti: saya baru menyadari bahwa saya mempunyai blog yang sudah lama tidak saya buka, bahkan MENYENTUHNYA pun belum pernah. Setelah motivasi untuk menulis meningkat, akhirnya saya memilih untuk mengurusnya kembali, walaupun hanya untuk konsumsi pribadi.

Saya kurang suka menulis, mungkin karena belum pernah menulis bahkan untuk membuat sebuah cerpen. Tulisan yang sering saya buat hanyalah syair atau lirik yang abu-abu, yang hanya dimengerti oleh saya pribadi, walaupun bukan itu yang saya maksud. Saya hanya mengagumi, belum ada motivasi, untuk menulis. Membaca karya-karya sastra merupakan hobi saya sejak kelas 5 SD, dimana buku Kahlil Gibran selalu ada dalam dekapan saya kala tidur. Namun keberanian untuk menulis sesuatu yang panjang, baik itu akan menjadi cerpen atau prosa, atau tulisan yang bersifat How To, belum ada. Barangkali. 



Membuat sebuah syair atau lirik lagu merupakan kegiatan favorit saya terutama ketika sedang tidak ada kerjaan atau sedang bengong. Isi dari tulisan tersebut bermacam-macam, disesuaikan dengan keadaan saya ketika itu. Banyak tulisan saya yang jelek dan akhirnya hanya menjadi junk dan tidak saya teruskan kembali, namun tidak sedikit tulisan saya yang bangus bahkan diminta oleh teman untuk dijadikan lirik lagunya.


Suddenly down, suddenly raise
Suddenly a wave come 
Get closer now
Move to the haze

Suddenly come, suddenly gone
Suddenly move to the other things
Get closer now
I'm half alive

I'm a fire, burning my wild
I'm a wind, fly my child
I'm a toxic, pain your wrist
I'm a water, fresh your thirst

When a line across your eyes
A ray will shining
Though I wear a glasses
Not enough 

Daffodil wants me to pick her up
Bring her away from any bad weather
Because she wants to still alive
No matter how any flowers survive